Perempuan di Perahu Terakhir
Setiap sore, ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat dan langit berubah menjadi warna tembaga, Kali Yasa menjadi panggung kehidupan yang tak pernah sepi.
Perahu-perahu nelayan pulang satu demi satu dari laut. Mesin-mesin tua meraung pelan. Burung-burung kuntul berputar di udara. Aroma ikan segar bercampur bau solar dan lumpur muara menyelimuti tepian sungai.
Orang-orang datang menyambut.
Istri menjemput suami.
Anak-anak berlarian mencari ayah mereka.
Pedagang berebut membeli hasil tangkapan.
Gelak tawa dan teriakan tawar-menawar menyatu dengan suara ombak yang jauh di luar sana.
Namun di antara semua keramaian itu, selalu ada satu pemandangan yang tak pernah berubah.
Seorang perempuan setengah baya berdiri di sebuah perahu kayu tua yang tertambat di tepi Kali Yasa.
Namanya Rukayah.
Usianya mungkin sudah mendekati enam puluh tahun. Sulit menebaknya. Wajahnya telah lama digurat matahari dan angin laut. Rambutnya yang mulai memutih selalu diikat sederhana di belakang kepala.
Setiap sore ia datang.
Naik ke perahu yang sama.
Berdiri menghadap muara.
Menunggu.
Orang-orang sudah hafal.
Sudah hampir tujuh tahun ia melakukan hal itu.
Tujuh tahun.
Waktu yang cukup bagi seorang anak menjadi remaja.
Waktu yang cukup bagi sebuah rumah roboh dan dibangun kembali.
Namun tidak cukup bagi Rukayah untuk berhenti menunggu.
Suaminya, Karta, adalah nelayan.
Tujuh tahun lalu, pada awal musim angin timur, ia berangkat melaut bersama tiga orang awak.
Cuaca ketika itu cerah.
Tak ada tanda bahaya.
Tak ada firasat buruk.
Bahkan sebelum berangkat, Karta masih sempat bercanda.
"Nanti kalau dapat tongkol besar, kita makan sepuasnya."
Rukayah masih ingat betul kalimat itu.
Kalimat terakhir yang didengarnya.
Karena setelah hari itu, perahu Karta tak pernah kembali.
Pencarian dilakukan.
Nelayan-nelayan lain ikut membantu.
Tim SAR datang.
Pantai-pantai diperiksa.
Pulau-pulau kecil disisir.
Namun laut hanya mengembalikan kesunyian.
Tak ada perahu.
Tak ada jenazah.
Tak ada kabar.
Hanya hilang.
Begitu saja.
Sejak saat itu hidup Rukayah seperti terhenti pada satu sore yang panjang.
Awalnya orang-orang menghiburnya.
"Ikhlaskan, Yah."
"Sudah takdir."
"Karta pasti sudah tenang."
Rukayah hanya mengangguk.
Tetapi setiap petang ia tetap datang ke Kali Yasa.
Tetap berdiri di perahu tua.
Tetap memandang ke arah muara.
Seolah-olah suatu hari akan muncul sebuah perahu kecil dari balik cahaya senja.
Dan Karta akan melambaikan tangan sambil tersenyum.
Tahun pertama, orang-orang masih memahami.
Tahun kedua, mereka mulai heran.
Tahun ketiga, sebagian mulai menganggapnya aneh.
Tahun kelima, anak-anak kecil mulai menjulukinya "Nenek Penunggu Laut."
Namun Rukayah tak peduli.
Ia tetap datang.
Setiap hari.
Kecuali saat sakit keras.
Bahkan hujan sering tak mampu menghalanginya.
Suatu sore, seorang wartawan muda dari kota datang ke Kali Yasa.
Ia mendengar cerita tentang perempuan yang menunggu suaminya selama bertahun-tahun.
Ia menemui Rukayah yang sedang berdiri di atas perahu.
"Bu, boleh saya bertanya sesuatu?"
Rukayah menoleh.
"Boleh."
"Warga bilang Ibu masih menunggu suami yang hilang tujuh tahun lalu."
Rukayah tersenyum tipis.
"Iya."
"Apakah Ibu benar-benar percaya beliau masih hidup?"
Pertanyaan itu membuat perempuan itu lama diam.
Matanya tetap memandang ke arah laut.
Kemudian ia berkata pelan.
"Entahlah."
Wartawan itu bingung.
"Kalau begitu, mengapa Ibu masih menunggu?"
Rukayah tidak langsung menjawab.
Ia melihat satu per satu perahu yang masuk ke muara.
Nelayan-neIayan melambai kepada keluarganya.
Anak-anak berteriak kegirangan.
Lalu ia berkata,
"Menunggu bukan selalu soal berharap seseorang kembali."
Wartawan itu mencatat.
Rukayah melanjutkan.
"Kadang menunggu adalah cara hati menerima kehilangan."
Wartawan itu terdiam.
Rukayah tersenyum.
"Dulu saya datang ke sini karena yakin suami saya akan pulang."
"Dan sekarang?"
"Sekarang saya datang karena di sinilah kenangan terakhir saya tentang dia."
Angin sungai meniup ujung kerudungnya.
"Di tempat ini saya melihat dia berangkat."
"Di tempat ini pula saya belajar hidup tanpanya."
Matahari semakin rendah.
Cahayanya memantul di permukaan Kali Yasa seperti serpihan emas.
"Saya tidak tahu apakah Karta masih hidup atau sudah menjadi bagian dari laut."
"Tapi selama saya berdiri di sini, rasanya dia belum benar-benar pergi."
Tahun demi tahun berlalu.
Kali Yasa tetap ramai.
Perahu-perahu datang dan pergi.
Anak-anak yang dulu bermain di dermaga kini telah menjadi nelayan.
Sebagian bahkan sudah menikah.
Namun Rukayah masih datang.
Lebih lambat.
Lebih tua.
Lebih rapuh.
Tetapi tetap datang.
Suatu senja, seorang bocah bertanya kepada ayahnya sambil menunjuk perempuan itu.
"Ayah, kenapa nenek itu selalu berdiri di sana?"
Nelayan itu memandang Rukayah sejenak.
Lalu menjawab,
"Karena tidak semua orang yang hilang bisa dikuburkan."
Bocah itu tidak mengerti.
Namun ayahnya melanjutkan,
"Dan tidak semua kehilangan selesai dengan air mata."
Di kejauhan, matahari tenggelam perlahan.
Perahu-perahu terakhir memasuki Kali Yasa.
Rukayah masih berdiri di atas perahu tuanya.
Memandang laut yang mulai gelap.
Seakan mencari satu perahu yang tak pernah kembali.
Atau mungkin bukan.
Mungkin ia sedang menjaga sebuah cinta agar tidak ikut tenggelam bersama waktu.
Dan selama Kali Yasa masih mengalir menuju laut, selama senja masih datang setiap hari, orang-orang akan terus melihat perempuan itu berdiri di perahu terakhir—menjadi penanda bahwa harapan, betapapun rapuhnya, kadang mampu hidup lebih lama daripada manusia yang menanggungnya.
Related Articles