PUISI SUNGSANG SUPARDI AR
di padang sepi
seorang lelaki dengan seksama
mendengar alunan lagu
limapuluh tahun lalu
-tersenyum dianya padaku
manis manis manis
kubelai rambutnya yang hitam
sayang sayang sayang
alangkah senang hatiku
bila kudekat denganmu
alangkah senang hatiku
sayangku hanya padamu *
..........-
angin malam bertiup dingin
tubuhnya menggigil
gemeretak gigi dan sembab matanya
terlintas masamasa
KENANGAN
pangsit, 16062019
*) Manis dan Sayang, dari vol.1 Koes Plus
'ku selalu mencoba untuk menguatkan hati
dari kamu yang belum juga kembali
ada satu keyakinan yang membuatku bertahan
penantian ini 'kan terbayar pasti
lihat aku, sayang, yang sudah berjuang
menunggumu datang, menjemputmu pulang
ingat selalu, sayang, hatiku kau genggam
aku tak 'kan pergi, menunggu kamu di sini
tetap di sini
..............
Menunggu Kamu – Anji
ia tancapkan sebatang paku
tepat pada tubuhnya
menggelinjang kejang bola matanya putih
ia rasakan gelapnya dunia
ia rasakan belaian angin
terbakar tubuhnya menguap jiwanya
SECUIL BALADA SEBATANG PAKU
klepurba, 9 juni 2026
di sela guratan guratan meja tua
seekor waktu patah sayap
tergeletak tanpa bunyi jatuh
semut semut membawa senja pulang
ke sarang berbau musim lalu
di sana bulir bulir air
menyembunyikan langit sebesar luka
angin pun lewat berkaki debu
oh menggiring bayangan menuju jurang
sementara usia mengunyah dirinya
tanpa sadar di telapak bulir bulir air
tertidur hutan bersama burung burung batu
tak sempat terbang sebelum fajar
retak memecah cermin nasib
setiap tetes memelihara dunia
pada bulir bulir air berkilau
seekor matahari mengecil perlahan
masuk ke lubang jarum kenangan
lalu berubah menjadi perahu garam
berlayar di sungai nadi manusia
hingga malam lupa dan kehilangan nama
BULIR BULIR AIR
Klepu, 4 Juni 2026
ia dengar suara meretas nadi
menjalar ke batangbatang hari
saat ia sapa pagi
selimut pindah di trotoar seberang rumah
disedunya segenggam teh
lantas ia nikmati
kala matahari berwajah ceria
menyapa punggung petani
MERETAS NADI
klepurba, 16 Mei 2026
terlihat cangkir retak menggigil sendiri
kartosopo terlihat memanggul sekarung gabah
jalan dusun penuh lumpur dingin
nampak lelaki tua berjalan pincang
bulan keropos mengunyah awan
langit pecah di punggungnya
“pajak naik lagi!” seru pak lurah
burung gagak hinggap di surau
di bawah pohon randu lapuk
kartosopo bertemu penjual candu
mata perempuan bagai rawa
sementara lelaki tua menahan batuk
“dunia cuma pasar luka,”
bisik perempuan sambil tertawa
daun-daun pun jatuh bagai doa
lelaki tua memejamkan matanya
subuh basah menyeret bau got
kartosopo mendengar tangis bocah
“bapak belum pulang, mak!”
oh knalpot truk mengguncang jembatan
lihat nasi aking diperebutkan ayam
dan matahari bangkit seperti algojo
di halaman balai desa penuh poster
kartosopo menantang mandor pabrik
“perut kami bukan kaleng, tuan!”
lelaki tua mengangkat cangkul
serdadu desa ia menudingkan senapan
maka langit memerah seperti luka bakar
orang-orang hanya diam menahan takut
menjelang matinya musim kemarau
kartosopo duduk dekat kuburan
suara azan telah hanyut perlahan
“tubuh cuma persinggahan debu,” ucapnya
bibir lelaki tua tersenyum getir
sambil memungut senja
bulan bongkok pecah di matanya
BALADA LELAKI TUA
Klepurba, 11 Mei 2026
Related Articles