BUKU PUTIH KURAWA, SERI 2: Tangisan Mahapatih Terakhir

Sastra 19 Jun 2026 22:13 6 min read 76 views By Bono Kris

Share berita ini

BUKU PUTIH KURAWA, SERI 2: Tangisan Mahapatih Terakhir
Langit yang semula merah oleh cahaya senja kini berubah kelabu kehitaman. Angin bertiup lirih, menyapu rerumputan yang telah hangus oleh perang. Sesekali terdengar lolongan anjing liar dari kejauhan, disusul kepakan sayap burung-burung pemakan bangkai yang masih belum kenyang.

Tangisan Mahapatih Terakhir

Malam turun perlahan di atas Padang Kurusetra.

Langit yang semula merah oleh cahaya senja kini berubah kelabu kehitaman. Angin bertiup lirih, menyapu rerumputan yang telah hangus oleh perang. Sesekali terdengar lolongan anjing liar dari kejauhan, disusul kepakan sayap burung-burung pemakan bangkai yang masih belum kenyang.

Perang telah selesai.

Tetapi kematian belum selesai menjalankan tugasnya.

Di mana-mana mayat bergelimpangan.

Tubuh para ksatria yang dahulu dipuja kini tak lebih berharga daripada batang kayu lapuk di tepi jalan.

Memang demikianlah nasib manusia.

Ketika hidup, mereka diperebutkan.

Ketika mati, mereka dilupakan.

Di sebuah tempat yang tidak jauh dari sungai kecil tempat Durgempa menangisi nasibnya, tampak sebuah pemandangan yang membuat hati siapa pun terasa perih.

Di atas tanah yang becek oleh darah dan lumpur, terbujur sesosok mayat tua yang sudah rusak.

Tubuh itu tidak lagi utuh.

Lengannya patah-patah.

Dadanya berlubang.

Perutnya terkoyak.

Sebagian wajahnya bahkan sudah sulit dikenali.

Burung-burung gagak berkerumun di sekelilingnya.

Ada yang mematuk mata.

Ada yang mencabik pipi.

Ada yang menarik urat-urat yang menjulur dari rongga perut.

Mereka berpesta dengan rakus.

Dan yang mereka santap itu bukan mayat seorang prajurit biasa.

Melainkan jasad Mahapatih Sengkuni.

Tokoh yang selama puluhan tahun membuat para raja Bharata gelisah ketika mendengar namanya.


Tidak jauh dari bangkai itu duduk seorang tua renta.

Tubuhnya kurus.

Punggungnya membungkuk.

Rambutnya panjang berwarna putih keabu-abuan.

Matanya cekung.

Wajahnya tampak sangat lelah.

Orang yang melihatnya mungkin akan mengira ia seorang pengemis tua yang tersesat di medan perang.

Padahal dialah roh Sengkuni sendiri.

Sejak tadi ia duduk diam.

Diam seperti batu.

Matanya tak pernah lepas dari tubuhnya yang sedang dicabik burung-burung bangkai.

Ada saat-saat tertentu ketika penderitaan menjadi demikian besar sehingga manusia tidak lagi mampu berteriak.

Tidak lagi mampu menangis.

Tidak lagi mampu marah.

Mereka hanya duduk dan memandang.

Persis seperti yang dilakukan Sengkuni saat itu.

Entah berapa lama ia duduk demikian.

Mungkin satu jam.

Mungkin satu hari.

Mungkin lebih.

Tak ada yang tahu.

Sampai akhirnya bibirnya bergerak perlahan.

"Mengapa...?"

Suara itu begitu lirih.

Nyaris tidak terdengar.

Namun dalam kesunyian padang kematian, suara sekecil apa pun terdengar jelas.

"Mengapa aku berakhir seperti ini...?"

Ia masih memandang bangkainya.

Matanya tidak berkedip.

Seolah takut kehilangan satu bagian kecil pun dari kenyataan pahit yang sedang disaksikannya.


Sengkuni tertawa kecil.

Aneh.

Tawa yang lebih mirip isak tangis.

"Aku Mahapatih Hastinapura..."

gumamnya.

"Aku mengatur kerajaan terbesar di Bharata..."

"Aku menentukan jalannya perang..."

"Aku menjaga tahta selama puluhan tahun..."

"Aku mengorbankan seluruh hidupku..."

Ia berhenti.

Tenggorokannya terasa sesak.

Lalu perlahan suaranya berubah menjadi bisikan yang menyayat hati.

"Mengapa aku mati seperti anjing liar di pinggir jalan...?"

Angin bertiup.

Tak ada yang menjawab.

Hanya terdengar suara gagak mematuk tulang.

Tok...

Tok...

Tok...

Suara yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada bunyi senjata.

Karena suara itu sedang menggerogoti harga dirinya.


Perlahan kedua bahu Sengkuni bergetar.

Lalu semakin kuat.

Semakin kuat.

Air mata menetes dari matanya yang tua.

Mula-mula hanya setitik.

Kemudian dua titik.

Lalu mengalir deras.

Mahapatih yang selama hidup ditakuti para raja itu menangis seperti seorang anak kecil.

"Aku tidak takut mati..."

katanya tersendat.

"Aku sudah lama siap mati..."

"Tetapi..."

Suaranya pecah.

"Tetapi aku tidak sanggup melihat diriku diperlakukan seperti ini..."

Kini tangisnya tak terbendung lagi.

Bahu tua itu terguncang-guncang.

Selama hidupnya Sengkuni telah kehilangan banyak hal.

Ia kehilangan ayahnya.

Kehilangan saudara-saudaranya.

Kehilangan tanah kelahirannya.

Kehilangan masa mudanya.

Namun ternyata masih ada satu hal yang belum siap ia kehilangan.

Martabat.


Tiba-tiba seekor gagak besar berhasil mencabut sepotong daging dari tulang lengannya.

Burung itu terbang rendah melewati wajah Sengkuni.

Di paruhnya tergantung daging yang dahulu merupakan bagian dari tubuh seorang mahapatih.

Peristiwa kecil itu menjadi pemicu.

Seperti sebutir api yang jatuh ke dalam gudang mesiu.

Seketika seluruh kesedihan dalam diri Sengkuni berubah.

Tangis lenyap.

Digantikan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Amarah.


Perlahan ia mengangkat kepala.

Mata yang semula basah kini berubah merah.

Menyala.

Seperti bara yang dikipasi angin.

"Aku tidak terima..."

bisiknya.

Tanah di sekitarnya mulai bergetar.

Roh-roh yang berkeliaran segera menoleh.

Mereka merasakan sesuatu.

Sesuatu yang mengerikan.

"Aku tidak terima!"

Kali ini suaranya menggelegar.

Padang Kurusetra seakan berguncang.

Burung-burung bangkai beterbangan ketakutan.

Awan hitam mulai berkumpul.

Angin bertiup semakin kencang.

Roh-roh para Kurawa mundur dengan wajah pucat.

Karena mereka melihat perubahan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.


Tubuh Sengkuni mulai membesar.

Mula-mula perlahan.

Lalu semakin cepat.

Semakin besar.

Semakin tinggi.

Rambut putihnya berkibar seperti awan badai.

Matanya menyala merah darah.

Kuku-kukunya memanjang.

Giginya berubah menjadi taring.

Dalam beberapa saat saja sosok tua renta itu telah menjelma menjadi raksasa mengerikan yang tingginya melebihi pohon-pohon terbesar di Kurusetra.

Inilah Tiwikrama.

Wujud kemarahan yang lahir dari jiwa yang tidak rela menerima nasibnya.

Dan kemarahan seorang manusia yang kehilangan segalanya sering kali lebih dahsyat daripada amarah para dewa.


Dengan tangan raksasanya Sengkuni mengangkat bangkai tubuhnya sendiri.

Jasad yang sudah hancur itu dipeluk erat.

Begitu erat.

Seolah seorang ibu yang memeluk anaknya yang telah mati.

Pemandangan itu begitu ganjil.

Begitu menyedihkan.

Dan sekaligus mengerikan.

"Lihatlah!"

raungnya ke angkasa.

"Lihatlah apa yang kalian lakukan kepadaku!"

Petir menyambar.

Kilat berkelebat.

Langit berguncang.

"Lihatlah!"

"Aku mengabdi seumur hidupku!"

"Aku mempertaruhkan segalanya!"

"Dan inikah balasan yang kuterima?"

Suaranya menggema ke seluruh penjuru alam.

Bahkan para penghuni kahyangan mulai mendengarnya.


Lalu tiba-tiba...

Tubuh raksasa itu melompat.

Bukan lompatan biasa.

Melainkan lompatan yang membuat bumi bergetar seperti dihantam gempa.

Bummm!

Tanah Kurusetra retak.

Debu beterbangan.

Dan tubuh Sengkuni melesat ke angkasa bagaikan seekor naga hitam yang keluar dari perut bumi.

Ia menembus awan.

Menembus lapisan-lapisan langit.

Semakin tinggi.

Semakin cepat.

Semakin marah.

Tujuannya hanya satu.

Kahyangan.

Ia tidak lagi mencari belas kasihan.

Tidak lagi mencari penghiburan.

Ia menghendaki jawaban.

Dan jika para dewa menolak menjawab...

Maka para dewa akan dipaksa menjawab.


Di gerbang kahyangan, para dewa penjaga mulai gelisah.

Mereka melihat segumpal cahaya hitam meluncur dari bumi.

Mula-mula sebesar burung.

Lalu sebesar kereta perang.

Lalu sebesar gunung.

"Apa itu?"

seru seorang dewa.

Tak lama kemudian wajahnya berubah pucat.

"Sengkuni!"

Para dewa segera menghunus senjata.

Sepuluh penjaga langit melayang turun untuk menghadang.

Namun mereka terlambat.

Terlalu terlambat.

Dengan kibasan tangan yang sederhana, Sengkuni menyapu mereka seperti angin badai menyapu dedaunan kering.

Tubuh para dewa itu terpelanting ke segala arah.

Tak seorang pun mampu bertahan.

Mereka kalah bahkan sebelum sempat menyerang.


Jauh di atas langit ketujuh...

Di balairung para dewa yang diselimuti cahaya keemasan...

Seorang dewa agung perlahan membuka matanya.

Wajahnya tenang.

Namun di balik ketenangan itu tersimpan kegelisahan.

Dialah Batara Penyarikan.

Panglima para dewa.

Pengatur jalannya peristiwa-peristiwa besar di kahyangan.

Matanya menembus tujuh lapis langit.

Melihat sosok hitam yang sedang melesat menuju istananya.

Dan untuk pertama kalinya sejak Bharatayuda berakhir, Batara Penyarikan menghela napas panjang.

Karena ia tahu.

Yang datang bukan sekadar roh seorang manusia.

Yang datang adalah kemarahan.

Yang datang adalah dendam.

Yang datang adalah gugatan.

Dan tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya bagi para penguasa, baik penguasa dunia maupun penguasa langit, selain seorang pecundang yang merasa dirinya telah diperlakukan tidak adil oleh sejarah.

Maka di kahyangan yang megah itu, sebuah pertemuan besar segera menunggu.

Pertemuan yang akan mengguncang bukan saja para dewa, melainkan juga seluruh pengertian tentang siapa yang sesungguhnya benar dalam Bharatayuda.

 

 

 

 

Rumah Talenta Indonesia